Kamis, 10 Mei 2012

Mengapa makan buah dulu sebelum makan nasi ?

Mungkin sebagian dari kita pernah mendengar atau membaca "SEBELUM MAKAN NASI MAKAN BUAH DULU", Itu memang benar dan ini penjelasannya :

Menurut Sumber yang dipetik daripada Dr Abdullah Abd Hamid Diyab dan Dr Ahmad Qurquz, Ma'a ath-Thibb fi Quran al-Karim meemakan buah-buahan sebelum memakan makanan sangat bermanfaat  kerana buah-buahan mengandungi gula rendah kalori (sakakir Basithah) yang mudah dicerna dan diserap sehingga usus kita mampu menyerap gula ini dalam waktu yang singkat dalam beberapa minit dibandingkan dengan mereka yang memakan makanan tanpa diawali dengan buah-buahan terlebih dahulu, usus memerlukan kira-kira 3 jam untuk menyerap gula.

Selain kemudahan untuk dicerna dan diserap, kandungan rendah kalori menjadikan buah-buahan sebagai sumber utama tenaga bagi sel-sel tubuh antaranya alviolus perut (bulu lambung) dan dinding usus. dengan kandungan gula rendah kalori ini, kedua sel dalam tubuh ini dapat berkerja dengan optimal dalam menyerap berbagai jenis makanan yang dimakan setelah buah-buahan.

Mengubah kebiasaan kolonial zaman Belanda yang sudah ratusan tahun lamanya memang sulit. Salah satunya ya kebiasaan makan buah setelah makan. Buah di sini dulu bentuknya adalah salad. Salad adalah sejenis sayuran, bukan buah-buahan, dan ini juga dicontohkan oleh Rasulullah sehabis makan malam, untuk apa? sebagaimana kita tahu bahwa sayuran sangat kaya akan serat dan sangat sulit untuk dicerna, sehingga usus akan bekerja extra untuk mencernanya. Walhasil sistem pencernaan akan berjalan lebih efektif dg penyerapan gizi yg maksimum.

Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, maka pola makan semakin disesuaikan dengan irama metabolisme tubuh yang alamiah. Dan kenyataannya, makan buah itu paling baik adalah sebelum makan besar. Masih ingat dengan pelajaran praktikum di laboratorium sekolah dulu? Campuran bahan kimia satu dengan yang lainnya hanya akan terjadi pada kondisi tertentu bukan? Misalnya dipanaskan, diberi katalisator, atau diaduk.  Bila kondisi itu tidak kita penuhi maka campuran bahan-bahan tersebut tidak akan bereaksi. Nah, suhu yg paling baik adalah suhu tubuh, artinya ngga disarankan makan makanan yg memakai es atau yang masih terlalu panas.

 Itu yang terjadi dengan pencernaan di dalam saluran pencernaan kita.  Untuk bisa bereaksi (tercerna) maka perlu kondisi tertentu pula, seperti adanya enzim, vitamin atau mineral terentu, kondisi basa/asam, serta suhu tertentu pula.  Misalnya enzim amilase yang tugasnya hanya memecah pati menjadi glukosa. Nah, ada jenis makanan yang masuk ke tubuh kita sebagai penguat kerja enzim atau malah pelemah kerja enzim ini. Obat-obatan dan racun adalah inhibitor kerja enzim ini. Demikian juga yang berlaku untuk enzim-enzim lainnya.
Nah, ada pertanyaan, apa yang salah saat kita makan buah setelah makan besar?  Andang Gunawan (pencetus Food Combining Indonesia) dalam sebuah seminar mengungkapkan bahwa orang yang ingin makan buah setelah makan besar, hanya akan efektif bila buahnya di makan setelah 5-8 jam (tergantung apa yang ia makan).  Apa pasal? Perut/lambung kita akan mencerna makan besar yang kita makan lebih dulu.  Dengan enzim yang berbeda-beda dan kondisi yang juga berbeda-beda, untuk lemak, untuk protein, dsb. Semakin campur aduk makanan yang kita konsumsi, akan semakin lama mencernanya.  Nah kalau sudah begitu kapan giliran mencerna buahnya?? (Dengan kata lain buah yang dikonsumsi setelah makan besar tidak akan memberi manfaat bagi tubuh)
Andang juga menganjurkan agar mengonsumsi buah sebelum makan besar, paling tidak 15 menit sebelumnya. Ini akan memberi kesempatan lambung untuk mencerna buah itu lebih dulu.  Dan kenyataannya proses mencerna buah hanya membutuhkan waktu kisaran di bawah 30 menit. Lebih mudah/cepat dicerna. Tentu akan lebih baik jika dimakan dalam bentuk jus, tapi harus tanpa es.  Kenapa tanpa es? Ya kembali lagi di alinea sebelumnya.  Reaksi / proses pencernaan akan berlangsung lebih efektif jika dalam kondisi yang tepat, dan suhu yang tepat pula yaitu suhu badan.
Buah yang kita pilih pun sebaiknya yang tidak terlalu matang (terlebih hampir ‘mblenyek’ atau busuk). Karena pada buah matang sudah terjadi proses fermentasi dalam buah, yang cenderung menghasilan turunan etanol/alkohol. Lebih manis sih rasanya…. tapi tujuan sejati mengonsumsi buah untuk mendapat manfaat menyehatkan tentunya jadi tidak tercapai. Sementara buah yang terlalu muda pun belum terlalu maksimal kandungan gizinya.
Minum jus juga tidak bisa dibiarkan terlalu lama, atau misalnya disimpan di lemari es lebih dulu. Saat membuat jus buah/sayur diupayakan harus habis diminum saat itu juga. Mengapa? Karena bagian buah yang sudah terpecah-pecah, akan memudahkan kandungan gizi di dalamnya, seperti vitamin, antioksidan, akan cepat rusak/hilang. Semakin lama dibiarkan, tentu proses kerusakan akan semakin besar.
Harus kita upayakan membuat jus buah untuk sekali sajian saja, tidak berlebih.  Alat pembuat jusnya pun akan lebih baik menghasilkan jus bila kecepatan rotasi/putaran pisaunya lebih dari 20ribu RPM. Mengapa semakin cepat proses penghacuran buah (pengejusan) tentu menghilangkan risiko kerusakan yang lebih besar.  Mesin  tidak panas dan bersinggungan langsung dengan buahnya.
Adakah alat seperti itu?  Di Indonesia, saya kenal alat yang namanya Magic Processor yang ternyata memenuhi semua syarat tersebut. Alat ini juga pernah disebut-sebut oleh praktisi Food Combining Indonesia, Wied Harry Apriadji, sebagai satu-satunya alat yang paling praktis dan memadai untuk pembuatan jus buah/sayur, sampai saat ini.
Alat tersebut bisa menghancurkan buah dengan kecepatan 22 ibu rpm, alatnya bisa dipindah-pindahkan untuk membuat jus, sehingga mudah dalam mencuci, bahkan aman dan bisa membuat jus langsung dalam sebuah gelas.
Jadi bisa disimpulkan, mengonsumsi buah menjadi agar bermanfaat maksimal paling tidak meliputi 3 hal yang harus diperhatikan:
  1. Waktu konsumsinya tepat, sebelum makan besar (paling tidak 15 menit), tidak setelahnya
  2. Pemilihan buah yang pas, tidak terlalu matang, tidak telalu mentah.
  3. Proses pembuatannya (jus) menggunakan alat jus yang menjamin kandungan gizinya terjaga.
  4. Tidak memakai es.
Orang yang biasa makan buah dan sayur segar biasanya nampak dari kulit dan wajah yang cerah/berseri, pencernaan bagus, punya berat badan ideal,  dan jarang punya keluhan kesehatan.
Nah, bila Anda merasa sudah biasa makan buah, tetapi Anda rasakan tidak berpengaruh pada kesehatan Anda, mungkin analisis di atas bisa menjadi bahan inspirasi untuk menggali informasi lebih luas lagi.
Silakan bila ada analisis lainnya.

2 komentar:

Unknown mengatakan...

Thanks for the tips :D

Unknown mengatakan...

Thanks for the tips :D